Oleh : Ahmad Sastra
"Trauma beragama" mengacu pada pengalaman
emosional atau psikologis yang muncul akibat pengalaman buruk atau menyakitkan
yang terkait dengan agama atau praktik keagamaan. Ini bisa mencakup berbagai
hal, seperti kekerasan fisik atau mental, diskriminasi, pengabaian spiritual,
atau tekanan untuk mengikuti aturan agama tertentu dengan cara yang sangat
keras atau ekstrem.
Dalam konteks trauma beragama, seseorang mungkin
merasa tertekan atau bahkan merasa bahwa agama mereka telah digunakan untuk
mengendalikan atau menyakiti mereka. Trauma beragama biasanya disebabkan oleh
perilaku orang beragama yang justru tidak mewakili ajaran agama itu sendiri. Banyak
orang kecewa kepada perilaku orang beragama. Dalam Islam, memang berbeda antara
muslim dan Islam.
Beberapa contoh trauma beragama bisa melibatkan,
pertama, penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin agama yakni ketika pemimpin
agama menggunakan posisinya untuk mengeksploitasi atau menyalahgunakan
individu. Kedua, diskriminasi atau stigma dalam komunitas agama seperti ketika
orang mengalami penolakan atau pengucilan dalam komunitas keagamaan karena
perbedaan pandangan, orientasi seksual, atau kesalahan masa lalu.
Ketiga, pendidikan agama yang sangat keras, yakni
ketika orang mengalami pengajaran agama yang penuh dengan rasa takut, hukuman,
atau rasa bersalah yang berlebihan. Keempat, keterbatasan kebebasan pribadi
yakni ketika orang terjebak dalam keyakinan atau praktik agama yang mengurangi
otonomi pribadi atau kebebasan berpikir.
Trauma beragama bisa sangat mempengaruhi kesehatan
mental dan emosional seseorang, sering kali menyebabkan rasa cemas, depresi,
atau kebingungan terkait dengan iman dan spiritualitas mereka. Proses
penyembuhan dari trauma beragama bisa melibatkan terapi, refleksi pribadi, atau
pembebasan diri dari tekanan sosial dan keagamaan.
Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan
mengalami trauma beragama, penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung,
penuh kasih, dan memungkinkan individu untuk merasa aman dalam menjalani
kehidupan beragama mereka.
Belajar tentang agama dengan cara yang kritis dan
terbuka, memahami bahwa keyakinan harus didasarkan pada pemahaman dan refleksi
pribadi, bukan semata-mata tekanan sosial. Pastikan bahwa agama tidak diajarkan
dengan cara yang menanamkan rasa bersalah atau ketakutan yang berlebihan. Keduanya
bisa menghindarkan orang dari trauma beragama.
Hal lain agat tidak terjadi trauma beragama adalah
bahwa setiap individu, terutama anak-anak, harus merasa bebas untuk bertanya
tentang keyakinan mereka dan mencari pemahaman lebih dalam tanpa takut akan
hukuman atau stigma. Jika ada hal yang membingungkan atau terasa tidak nyaman,
penting untuk mencari klarifikasi, baik dari pemimpin agama yang bijaksana atau
melalui sumber-sumber yang lebih luas.
Pemimpin agama atau orang yang berkuasa dalam
komunitas keagamaan seharusnya tidak mengeksploitasi pengikut mereka untuk
keuntungan pribadi. Waspadai situasi di mana ada tekanan untuk mengikuti
perintah secara buta, tanpa ruang untuk refleksi pribadi. Pemimpin agama yang
baik adalah yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kedamaian, bukan rasa
takut atau penghukuman.
Agama seharusnya menjadi sumber kedamaian dan
kekuatan, bukan sumber stres atau kecemasan. Jika seseorang merasa tertekan
atau bingung tentang agama mereka, mencari dukungan dari seorang konselor atau
terapis yang memiliki pemahaman tentang trauma beragama bisa sangat membantu. Menghargai
bahwa hubungan dengan Tuhan atau agama adalah perjalanan pribadi yang harus
bebas dari tekanan eksternal.
Agama harus berfungsi sebagai jalan untuk
mengembangkan cinta kasih, empati, dan saling menghormati. Jika ajaran agama
menekankan pada kebencian, penghakiman, atau pengucilan, maka hal itu bisa
berisiko menjadi penyebab trauma. Dogma atau aturan yang terlalu ketat bisa
menimbulkan rasa terpenjara. Sebaliknya, agama harus memberi ruang untuk
fleksibilitas dan pertumbuhan pribadi.
Jika seseorang pernah mengalami trauma beragama,
penting untuk menyembuhkan luka tersebut melalui pengampunan dan pemahaman.
Penyembuhan bisa melibatkan mendekati agama dengan cara yang lebih penuh kasih
dan tidak menghakimi diri sendiri atau orang lain.
Menemukan cara untuk menyambung kembali dengan aspek
positif dari agama, tanpa beban masa lalu yang menyakitkan, bisa sangat
membantu dalam penyembuhan trauma.
Menjadi bagian dari komunitas agama yang peduli,
inklusif, dan saling mendukung sangat penting untuk kesehatan emosional.
Komunitas yang saling mendukung bisa menjadi tempat yang aman untuk berbagi
pengalaman dan menjalani spiritualitas bersama. Terlibat dalam kegiatan sosial
atau rohani yang memberi rasa memiliki dan positif, bukan hanya sekadar
mengikuti aturan.
Islam menawarkan solusi dan pendekatan untuk mengatasi
trauma beragama dengan cara yang menekankan pada kasih sayang, pengampunan, dan
kedamaian. Islam memberikan banyak ajaran yang bisa membantu individu yang
menghadapi trauma beragama, baik itu akibat tekanan dari lingkungan, pengajaran
yang keras, atau pengalaman buruk lainnya dalam konteks keagamaan.
Salah satu konsep dasar dalam Islam adalah sifat Allah
yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Setiap kesalahan atau keterbatasan yang
dimiliki seseorang tidak menjadikannya terkutuk selamanya. Dalam Al-Qur'an,
Allah sering kali menegaskan bahwa Dia lebih dekat kepada hamba-Nya dan akan
selalu mengampuni siapa pun yang bertaubat dengan tulus.
Allah berfirman : "Dan Tuhanmu Maha Pengampun,
pemilik rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, maka Dia
pasti segera menurunkan azab kepada mereka. Tetapi bagi mereka ada janji yang
pasti untuk kembali ke sisi-Nya." (Al-Kahfi: 58)
Islam mengajarkan bahwa tidak ada dosa yang terlalu
besar untuk diampuni selama seseorang kembali kepada Allah dengan tulus. Konsep
taubat (pertobatan) memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membebaskan
diri dari rasa bersalah yang berlarut-larut.
Shalat (ibadah lima waktu) adalah cara untuk
mendekatkan diri kepada Allah. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi
juga sarana untuk menenangkan jiwa dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Dalam
momen shalat, seseorang bisa memohon perlindungan dari perasaan cemas dan
trauma serta mencari kedamaian dalam hati.
Islam mengajarkan bahwa doa adalah sarana untuk
berbicara langsung dengan Allah. Doa bisa menjadi bentuk pelampiasan perasaan
dan masalah pribadi. Bahkan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa Allah sangat
dekat dan mendengar setiap doa yang tulus dari hamba-Nya.
Islam sangat menekankan bahwa tidak ada paksaan dalam
beragama. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 256 disebutkan : "Tidak ada paksaan
dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang
sesat." (Al-Baqarah: 256)
Seseorang yang merasa tertekan atau dipaksa untuk
mengikuti ajaran agama dengan cara yang tidak nyaman bisa menemukan ketenangan
dalam prinsip ini. Allah memberikan kebebasan untuk memilih agama, dan umat
Islam diingatkan untuk tidak menghakimi atau memaksa orang lain.
Banyak ayat dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad
SAW yang menekankan pentingnya hidup dalam kasih sayang dan saling menghormati.
Ini mencakup tidak hanya hubungan dengan sesama umat Islam, tetapi juga dengan
orang lain yang berbeda agama. Allah berfirman : "Dan kerjakanlah
kebajikan; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat
kebajikan." (Al-Baqarah: 195)
Jika seseorang merasa terluka atau terisolasi oleh
trauma beragama, berhubungan dengan komunitas yang peduli, penuh kasih, dan
tidak menghakimi adalah hal yang penting. Islam mengajarkan agar setiap
individu merasa diterima dan dihargai dalam komunitas mereka.
Dalam Islam, sangat ditekankan untuk menghindari sikap
ekstrem atau kekerasan atas nama agama. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya
untuk tidak menghakimi orang lain secara keras dan untuk selalu bertindak
dengan penuh kebijaksanaan.
Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari
takdir Allah, dan setiap orang memiliki jalannya masing-masing dalam mencari
kebenaran. Hal ini bisa mengurangi trauma beragama yang disebabkan oleh tekanan
sosial atau perasaan terisolasi.
Islam mengajarkan pentingnya menjaga hati dan pikiran
agar tetap tenang dan damai. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd: 28)
Jika seseorang merasa bersalah karena dosa atau
kesalahan, Islam mengajarkan untuk bertobat dan tidak membiarkan perasaan itu
menguasai diri. Ketika seseorang kembali kepada Allah dengan niat yang tulus,
Allah akan menerima pertobatannya.
Islam menekankan pentingnya merawat diri sendiri, baik
secara fisik, emosional, maupun spiritual. Islam mengajarkan bahwa setiap
individu diciptakan dengan nilai yang tinggi di mata Allah.
Dalam Islam, hidup memiliki tujuan yang jelas yaitu
untuk beribadah kepada Allah dan menjalani hidup dengan cara yang baik.
Menemukan makna dalam hidup, meski dalam kesulitan, bisa membantu individu
pulih dari trauma.
Dengan prinsip-prinsip ini, Islam memberikan banyak
jalan bagi seseorang untuk mengatasi trauma beragama, kembali kepada kedamaian
batin, dan membangun kembali hubungan yang sehat dengan agama mereka. Jika
seseorang merasa tertekan atau mengalami trauma, Islam mengajarkan untuk
mencari jalan kembali melalui taubat, doa, dan mencari dukungan dari komunitas
yang penuh kasih. Penyembuhan bisa ditemukan dalam mengingat rahmat Allah yang
tak terbatas dan dalam pemahaman bahwa setiap perjalanan spiritual adalah unik
dan penuh kasih sayang.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 01 April 2025 M : 11.45
WIB)