Oleh : Ahmad Sastra
Pluralisme agama adalah pandangan atau sikap yang
mengakui adanya keberagaman agama dan menganggap bahwa semua agama memiliki
nilai dan kebenaran yang sama dalam konteks kehidupan manusia. Dalam pandangan
pluralisme agama, setiap agama dihargai dan dihormati, serta diakui bahwa setiap
agama dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sosial dan spiritual.
Pluralisme agama menekankan bahwa tidak ada satu agama
pun yang lebih tinggi atau lebih benar daripada yang lain, dan bahwa pemeluk
agama yang berbeda seharusnya dapat hidup berdampingan dengan damai, saling
menghormati, dan bekerja sama, meskipun mereka memiliki keyakinan yang
berbeda-beda.
Namun, penting untuk dicatat bahwa pluralisme agama
tidak berarti bahwa semua pandangan agama itu sama atau tidak ada perbedaan
prinsip yang mendasar. Sebaliknya, pluralisme agama mengakui adanya
perbedaan-perbedaan tersebut, namun tetap mengedepankan sikap saling
menghormati dan berdialog secara konstruktif.
Paham pluralisme agama muncul sebagai respons terhadap
berbagai tantangan sosial, politik, dan keagamaan yang terjadi di dunia,
terutama pada abad ke-20. Sejarah lahirnya paham ini berhubungan dengan
berbagai perubahan besar dalam masyarakat dan pemikiran teologis.
Setelah Perang Dunia II, dunia mengalami perubahan
besar dalam banyak hal, termasuk dalam hal hubungan antarbangsa dan antaragama.
Globalisasi membawa orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya
untuk saling berinteraksi lebih intens. Ini menciptakan kebutuhan untuk saling
memahami dan hidup berdampingan, meskipun memiliki perbedaan agama yang
signifikan.
Paham pluralisme agama juga dipengaruhi oleh
perkembangan pemikiran teologis yang lebih terbuka terhadap perbedaan. Beberapa
teolog, seperti John Hick, berperan besar dalam mengembangkan pandangan ini.
Dalam karyanya, God and the Universe of Faiths (1973), Hick menyatakan
bahwa setiap agama adalah jalur yang sah menuju kebenaran yang sama, yaitu
Tuhan. Ini menantang pandangan eksklusivistik yang mengatakan hanya agama
tertentu yang benar.
Raimon Panikkar, seorang filsuf dan teolog asal
Spanyol, juga mengemukakan pandangan yang mirip. Ia menyatakan bahwa
agama-agama besar dunia, meskipun berbeda, memiliki pengalaman religius yang
serupa, dan dapat saling memperkaya satu sama lain.
Pluralisme agama juga berkembang sebagai respons
terhadap konflik-konflik antaragama yang sering kali dipicu oleh dominasi agama
tertentu, terutama pada masa kolonialisme. Dalam banyak kasus, pemaksaan satu
agama di atas yang lain menyebabkan ketegangan dan konflik. Pada abad ke-20,
muncul kesadaran bahwa untuk menciptakan perdamaian dunia, penting untuk
mengakui keberagaman agama dan mencari cara untuk hidup berdampingan secara
harmonis.
Salah satu tonggak penting dalam sejarah pluralisme
agama adalah Deklarasi Nostra Aetate yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan
Kedua (Vatican II) pada tahun 1965. Dalam dokumen ini, Gereja Katolik mengakui
bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam agama-agama lain, dan mengajak umat
Kristen untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan penganut agama-agama
lain, khususnya agama-agama besar seperti Islam, Yahudi, dan agama-agama
Hindu-Buddha.
Seiring waktu, gerakan ekumenisme (yang mendorong
persatuan antar denominasi Kristen) dan dialog antaragama semakin berkembang.
Para pemimpin agama dari berbagai keyakinan menyadari pentingnya berdialog
untuk menciptakan saling pengertian, toleransi, dan kerja sama di tengah
perbedaan agama yang ada di dunia.
Paham pluralisme agama lahir sebagai hasil dari
perkembangan sosial, politik, dan teologis yang terjadi pada abad ke-20. Hal
ini didorong oleh keinginan untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan saling
menghormati meskipun adanya perbedaan agama yang mendalam. Paham ini menekankan
pentingnya menghargai keyakinan orang lain dan hidup berdampingan secara
harmonis dalam keberagaman.
Apa kritik doktor ahmad sastra terhadap paham
pluralisme agama ?. Coba cari jawabannya di ChatGPT said: Dr. Ahmad Sastra,
seorang pemikir dan cendekiawan Muslim, memberikan beberapa kritik terhadap
paham pluralisme agama, terutama dalam konteks teori dan praktik ajaran agama
Islam. Kritik-kritik yang dia kemukakan terkait dengan bagaimana pluralisme
agama sering kali dianggap sebagai pendekatan yang bisa mengaburkan kebenaran
agama, terutama dalam hal ajaran Islam.
Dr. Ahmad Sastra berpendapat bahwa pluralisme agama,
yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang setara, bertentangan
dengan prinsip dasar Islam yang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang benar
dan satu-satunya jalan yang sah menuju keselamatan. Dalam pandangan Islam,
hanya ada satu kebenaran yang mutlak yang berasal dari Allah melalui wahyu-Nya,
yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, menurut Dr. Ahmad Sastra, pluralisme
agama bisa menciptakan kebingungan dalam memahami prinsip dasar ajaran Islam,
yang menegaskan bahwa meskipun kita harus menghormati agama-agama lain, tidak
ada yang bisa menyamai atau menggantikan Islam sebagai agama yang benar.
Salah satu kekhawatiran utama Dr. Ahmad Sastra
terhadap pluralisme agama adalah bahwa pemahaman ini bisa mendorong relativisme
agama, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran agama bersifat relatif
dan tergantung pada perspektif masing-masing individu. Dalam konteks ini,
setiap agama dianggap sah dan benar menurut keyakinannya masing-masing, yang
menurut Dr. Ahmad Sastra dapat merusak fondasi teologis dalam agama Islam yang
menganggap wahyu Allah sebagai satu-satunya kebenaran mutlak.
Pluralisme agama juga dapat mengarah pada pengaburan
identitas agama. Dalam kritiknya, Dr. Ahmad Sastra menunjukkan bahwa jika semua
agama dianggap setara dan memiliki jalan yang sama menuju kebenaran, maka
ajaran-ajaran khas dalam Islam (seperti syahadat, sholat, zakat, dan lainnya)
bisa dilihat sebagai tidak terlalu penting. Hal ini bisa membuat umat Islam
kehilangan pemahaman mendalam tentang identitas mereka sebagai Muslim yang
mengikuti petunjuk hidup yang telah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dr. Ahmad Sastra juga berpendapat bahwa pluralisme
agama, jika dipahami secara dangkal, dapat mengarah pada dialog antaragama yang
tidak jujur. Ketika tujuan dialog antaragama adalah untuk
"menyamakan" semua pandangan agama, diskusi yang jujur tentang
perbedaan-perbedaan mendalam antara agama-agama bisa terhalang. Dalam
pandangannya, dialog antaragama harus dilakukan dengan sikap saling menghormati
tanpa harus mengaburkan perbedaan prinsip dasar ajaran agama.
Salah satu implikasi dari pluralisme agama, menurut
Dr. Ahmad Sastra, adalah berkurangnya semangat dakwah dalam Islam. Jika semua
agama dianggap setara dalam kebenaran, umat Islam mungkin akan kehilangan
motivasi untuk mengajak orang lain memasuki Islam, karena mereka tidak lagi
merasa bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan membawa
keselamatan. Dakwah, bagi Dr. Ahmad Sastra, merupakan kewajiban dalam Islam
yang tidak boleh diabaikan, dan pluralisme agama dapat mereduksi urgensi dakwah
ini.
Secara umum, kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap
pluralisme agama berkisar pada keprihatinannya terhadap kemungkinan kehilangan
kebenaran mutlak yang diajarkan oleh Islam, pengaburan identitas agama, dan
potensi relativisme agama. Ia menekankan bahwa dalam konteks Islam, pluralisme
agama bisa membingungkan umat Islam dalam memahami ajaran agama mereka yang
sebenarnya, serta merusak semangat untuk mengajarkan dan menyebarkan agama
dengan cara yang benar.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 27 Ramadhan 1446 H – 27 Maret
2025 M : 14.29 WIB)