[5] Tadarus Pemikiran KERANCUAN PAHAM PLURALISME AGAMA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Pluralisme agama adalah pandangan atau sikap yang mengakui adanya keberagaman agama dan menganggap bahwa semua agama memiliki nilai dan kebenaran yang sama dalam konteks kehidupan manusia. Dalam pandangan pluralisme agama, setiap agama dihargai dan dihormati, serta diakui bahwa setiap agama dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sosial dan spiritual.

 

Pluralisme agama menekankan bahwa tidak ada satu agama pun yang lebih tinggi atau lebih benar daripada yang lain, dan bahwa pemeluk agama yang berbeda seharusnya dapat hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan bekerja sama, meskipun mereka memiliki keyakinan yang berbeda-beda.

 

Namun, penting untuk dicatat bahwa pluralisme agama tidak berarti bahwa semua pandangan agama itu sama atau tidak ada perbedaan prinsip yang mendasar. Sebaliknya, pluralisme agama mengakui adanya perbedaan-perbedaan tersebut, namun tetap mengedepankan sikap saling menghormati dan berdialog secara konstruktif.

 

Paham pluralisme agama muncul sebagai respons terhadap berbagai tantangan sosial, politik, dan keagamaan yang terjadi di dunia, terutama pada abad ke-20. Sejarah lahirnya paham ini berhubungan dengan berbagai perubahan besar dalam masyarakat dan pemikiran teologis.

 

Setelah Perang Dunia II, dunia mengalami perubahan besar dalam banyak hal, termasuk dalam hal hubungan antarbangsa dan antaragama. Globalisasi membawa orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan budaya untuk saling berinteraksi lebih intens. Ini menciptakan kebutuhan untuk saling memahami dan hidup berdampingan, meskipun memiliki perbedaan agama yang signifikan.

 

Paham pluralisme agama juga dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran teologis yang lebih terbuka terhadap perbedaan. Beberapa teolog, seperti John Hick, berperan besar dalam mengembangkan pandangan ini. Dalam karyanya, God and the Universe of Faiths (1973), Hick menyatakan bahwa setiap agama adalah jalur yang sah menuju kebenaran yang sama, yaitu Tuhan. Ini menantang pandangan eksklusivistik yang mengatakan hanya agama tertentu yang benar.

 

Raimon Panikkar, seorang filsuf dan teolog asal Spanyol, juga mengemukakan pandangan yang mirip. Ia menyatakan bahwa agama-agama besar dunia, meskipun berbeda, memiliki pengalaman religius yang serupa, dan dapat saling memperkaya satu sama lain.

 

Pluralisme agama juga berkembang sebagai respons terhadap konflik-konflik antaragama yang sering kali dipicu oleh dominasi agama tertentu, terutama pada masa kolonialisme. Dalam banyak kasus, pemaksaan satu agama di atas yang lain menyebabkan ketegangan dan konflik. Pada abad ke-20, muncul kesadaran bahwa untuk menciptakan perdamaian dunia, penting untuk mengakui keberagaman agama dan mencari cara untuk hidup berdampingan secara harmonis.

 

Salah satu tonggak penting dalam sejarah pluralisme agama adalah Deklarasi Nostra Aetate yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan Kedua (Vatican II) pada tahun 1965. Dalam dokumen ini, Gereja Katolik mengakui bahwa kebenaran dapat ditemukan dalam agama-agama lain, dan mengajak umat Kristen untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan penganut agama-agama lain, khususnya agama-agama besar seperti Islam, Yahudi, dan agama-agama Hindu-Buddha.

 

Seiring waktu, gerakan ekumenisme (yang mendorong persatuan antar denominasi Kristen) dan dialog antaragama semakin berkembang. Para pemimpin agama dari berbagai keyakinan menyadari pentingnya berdialog untuk menciptakan saling pengertian, toleransi, dan kerja sama di tengah perbedaan agama yang ada di dunia.

 

Paham pluralisme agama lahir sebagai hasil dari perkembangan sosial, politik, dan teologis yang terjadi pada abad ke-20. Hal ini didorong oleh keinginan untuk menciptakan dunia yang lebih damai dan saling menghormati meskipun adanya perbedaan agama yang mendalam. Paham ini menekankan pentingnya menghargai keyakinan orang lain dan hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman.

 

Apa kritik doktor ahmad sastra terhadap paham pluralisme agama ?. Coba cari jawabannya di ChatGPT said: Dr. Ahmad Sastra, seorang pemikir dan cendekiawan Muslim, memberikan beberapa kritik terhadap paham pluralisme agama, terutama dalam konteks teori dan praktik ajaran agama Islam. Kritik-kritik yang dia kemukakan terkait dengan bagaimana pluralisme agama sering kali dianggap sebagai pendekatan yang bisa mengaburkan kebenaran agama, terutama dalam hal ajaran Islam.

 

Dr. Ahmad Sastra berpendapat bahwa pluralisme agama, yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang setara, bertentangan dengan prinsip dasar Islam yang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang benar dan satu-satunya jalan yang sah menuju keselamatan. Dalam pandangan Islam, hanya ada satu kebenaran yang mutlak yang berasal dari Allah melalui wahyu-Nya, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

 

Dengan demikian, menurut Dr. Ahmad Sastra, pluralisme agama bisa menciptakan kebingungan dalam memahami prinsip dasar ajaran Islam, yang menegaskan bahwa meskipun kita harus menghormati agama-agama lain, tidak ada yang bisa menyamai atau menggantikan Islam sebagai agama yang benar.

 

Salah satu kekhawatiran utama Dr. Ahmad Sastra terhadap pluralisme agama adalah bahwa pemahaman ini bisa mendorong relativisme agama, yaitu pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran agama bersifat relatif dan tergantung pada perspektif masing-masing individu. Dalam konteks ini, setiap agama dianggap sah dan benar menurut keyakinannya masing-masing, yang menurut Dr. Ahmad Sastra dapat merusak fondasi teologis dalam agama Islam yang menganggap wahyu Allah sebagai satu-satunya kebenaran mutlak.

 

Pluralisme agama juga dapat mengarah pada pengaburan identitas agama. Dalam kritiknya, Dr. Ahmad Sastra menunjukkan bahwa jika semua agama dianggap setara dan memiliki jalan yang sama menuju kebenaran, maka ajaran-ajaran khas dalam Islam (seperti syahadat, sholat, zakat, dan lainnya) bisa dilihat sebagai tidak terlalu penting. Hal ini bisa membuat umat Islam kehilangan pemahaman mendalam tentang identitas mereka sebagai Muslim yang mengikuti petunjuk hidup yang telah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

 

Dr. Ahmad Sastra juga berpendapat bahwa pluralisme agama, jika dipahami secara dangkal, dapat mengarah pada dialog antaragama yang tidak jujur. Ketika tujuan dialog antaragama adalah untuk "menyamakan" semua pandangan agama, diskusi yang jujur tentang perbedaan-perbedaan mendalam antara agama-agama bisa terhalang. Dalam pandangannya, dialog antaragama harus dilakukan dengan sikap saling menghormati tanpa harus mengaburkan perbedaan prinsip dasar ajaran agama.

 

Salah satu implikasi dari pluralisme agama, menurut Dr. Ahmad Sastra, adalah berkurangnya semangat dakwah dalam Islam. Jika semua agama dianggap setara dalam kebenaran, umat Islam mungkin akan kehilangan motivasi untuk mengajak orang lain memasuki Islam, karena mereka tidak lagi merasa bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan membawa keselamatan. Dakwah, bagi Dr. Ahmad Sastra, merupakan kewajiban dalam Islam yang tidak boleh diabaikan, dan pluralisme agama dapat mereduksi urgensi dakwah ini.

 

Secara umum, kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap pluralisme agama berkisar pada keprihatinannya terhadap kemungkinan kehilangan kebenaran mutlak yang diajarkan oleh Islam, pengaburan identitas agama, dan potensi relativisme agama. Ia menekankan bahwa dalam konteks Islam, pluralisme agama bisa membingungkan umat Islam dalam memahami ajaran agama mereka yang sebenarnya, serta merusak semangat untuk mengajarkan dan menyebarkan agama dengan cara yang benar.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 27 Ramadhan 1446 H – 27 Maret 2025 M : 14.29 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.