[15] Tadarus Pemikiran KONSTRUKTIVISME DAN PENGABAIAN DIMENSI TEOLOGIS



 

oleh : Ahmad Sastra

 

Konstruktivisme adalah sebuah aliran dalam filsafat dan teori pembelajaran yang berfokus pada bagaimana pengetahuan dibangun melalui interaksi aktif individu dengan lingkungan dan pengalaman. Aliran ini menekankan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja, tetapi dibangun melalui proses konstruksi mental oleh individu itu sendiri.

 

Konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan tidak diterima secara pasif, melainkan dibangun oleh individu melalui pengalaman mereka sendiri. Setiap individu mengontruksi makna dari apa yang mereka pelajari berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.

 

Dalam konstruktivisme, belajar dianggap sebagai proses aktif, di mana individu berperan aktif dalam mencari tahu, mengeksplorasi, dan menghubungkan informasi yang mereka terima dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki.

 

Konstruktivisme juga menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran. Pembelajaran sering kali terjadi dalam konteks sosial di mana individu belajar melalui diskusi, kolaborasi, dan berbagi ide dengan orang lain.

 

Dua tokoh penting dalam konstruktivisme adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget fokus pada bagaimana anak-anak mengembangkan pengetahuan melalui tahap perkembangan kognitif, sementara Vygotsky lebih menekankan pada pengaruh budaya dan konteks sosial dalam pembelajaran.

 

Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang menganggap bahwa anak-anak aktif dalam membangun pengetahuan mereka melalui interaksi dengan lingkungan mereka.

 

Vygotsky berfokus pada pentingnya budaya dan interaksi sosial dalam proses pembelajaran. Ia menekankan konsep "zona perkembangan proksimal" yang menunjukkan perbedaan antara apa yang dapat dipelajari individu dengan bantuan dan apa yang dapat dipelajari tanpa bantuan.

 

Pendekatan konstruktivisme sering diterapkan dalam pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), di mana siswa dihadapkan pada masalah nyata dan didorong untuk mencari solusi secara aktif dan kolaboratif.

 

Aliran konstruktivisme lahir sebagai reaksi terhadap pandangan-pandangan tradisional dalam pendidikan dan psikologi, yang lebih menekankan pada penerimaan pengetahuan secara pasif dari guru atau sumber luar.

 

Konstruktivisme muncul sebagai teori yang menekankan pentingnya pengalaman dan interaksi individu dalam membangun pengetahuan. Sejarah kelahirannya melibatkan berbagai pemikiran dan teori yang berkembang selama abad ke-20.

 

Konstruktivisme banyak dipengaruhi oleh teori-teori psikologi kognitif, yang memandang pikiran manusia sebagai alat aktif dalam mengolah dan membentuk pengetahuan. Dua tokoh penting yang berperan dalam perkembangan konstruktivisme adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky.

 

Piaget adalah seorang psikolog Swiss yang mengembangkan teori perkembangan kognitif yang berpengaruh besar pada konstruktivisme. Menurut Piaget, anak-anak membangun pengetahuan melalui interaksi aktif dengan dunia mereka, dan perkembangan kognitif terjadi dalam serangkaian tahap yang tetap. Ia berpendapat bahwa individu bukan penerima pasif pengetahuan, melainkan pengontruksi aktif pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka.

 

Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menekankan pentingnya konteks sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif. Ia memperkenalkan konsep "zona perkembangan proksimal" (ZPD), yang menjelaskan area antara apa yang bisa dilakukan seorang anak secara mandiri dan apa yang bisa dicapai dengan bantuan orang lain. Vygotsky menganggap bahwa pembelajaran terjadi dalam interaksi sosial dan berkontribusi pada konstruksi pengetahuan.

 

Pada awal abad ke-20, behaviorisme mendominasi teori pembelajaran, yang menekankan pada pengondisian dan pembelajaran melalui stimulus dan respons. Namun, behaviorisme dianggap kurang memadai dalam menjelaskan bagaimana individu mengembangkan pengetahuan yang lebih kompleks dan abstrak.

 

Konstruktivisme muncul sebagai alternatif, karena lebih fokus pada proses internal dan cara individu mengorganisir serta membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman, bukan sekadar sebagai respons terhadap stimulus eksternal.

 

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, aliran konstruktivisme mulai diterapkan dalam dunia pendidikan, terutama dalam pengembangan metode pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pada pengalaman.

 

Jerome Bruner, seorang psikolog Amerika, adalah salah satu tokoh yang mengembangkan konstruktivisme dalam pendidikan. Bruner berpendapat bahwa pembelajaran harus didasarkan pada konsep-konsep yang lebih luas, dan siswa harus terlibat langsung dalam proses penemuan pengetahuan.

 

Jerome Bruner (1915-2016): Bruner memperkenalkan teori "discovery learning" (pembelajaran penemuan), di mana siswa diharapkan menemukan pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman langsung dan pemecahan masalah. Ia juga berpendapat bahwa kurikulum harus disusun dengan mempertimbangkan struktur pengetahuan yang memungkinkan siswa membangun pemahaman secara bertahap.

 

Pada tahun 1980-an dan seterusnya, konstruktivisme semakin berkembang dalam berbagai metode pengajaran, seperti pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran kolaboratif, dan pembelajaran kontekstual. Ide-ide konstruktivisme kini telah menginspirasi banyak model pendidikan yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, pemecahan masalah, dan kolaborasi antar siswa dalam proses pembelajaran.

 

Seiring dengan perkembangan teknologi, konstruktivisme juga dipengaruhi oleh kemajuan dalam bidang teknologi pendidikan. Pembelajaran berbasis komputer dan internet memungkinkan pembelajaran yang lebih interaktif dan partisipatif, sesuai dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Siswa dapat mengeksplorasi ide-ide secara lebih mendalam, bekerja sama dengan rekan-rekan mereka di seluruh dunia, dan membangun pengetahuan dengan cara yang lebih fleksibel dan pribadi.

 

Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap aliran konstruktivisme, ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra, seorang pemikir dan cendekiawan Islam, memberikan kritik terhadap aliran konstruktivisme, terutama dalam konteks perspektif Islam. Kritik ini terutama berkaitan dengan bagaimana konstruktivisme menganggap pengetahuan sebagai hasil konstruksi pribadi atau sosial tanpa memperhitungkan dimensi spiritual dan wahyu yang dianggap penting dalam perspektif Islam.

 

Salah satu kritik utama yang diajukan oleh Dr. Ahmad Sastra adalah bahwa konstruktivisme sering kali cenderung melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang relatif, bergantung pada pengalaman dan interpretasi individu. Dalam Islam, pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang bersifat objektif, dan ada kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu Tuhan (Al-Qur'an dan Hadis). Menurut perspektif Islam, pengetahuan tidak hanya dibangun melalui pengalaman manusia semata, tetapi juga diperoleh melalui wahyu Ilahi yang menjadi petunjuk hidup yang mutlak dan tak terbantahkan.

 

Dalam pandangan Islam, pengetahuan bukanlah sekadar hasil dari konstruksi individu atau komunitas. Ada sumber pengetahuan yang lebih tinggi dan pasti, yaitu wahyu yang diturunkan oleh Allah. Oleh karena itu, pengetahuan yang dibangun melalui proses konstruktivisme dapat dianggap tidak lengkap karena tidak selalu mempertimbangkan dimensi wahyu yang dianggap esensial dalam Islam.

 

Konstruktivisme seringkali mengutamakan pengalaman manusia dalam membentuk pengetahuan, yang menurut Dr. Ahmad Sastra, dapat mengarah pada subjektivitas dan relativisme. Dalam perspektif Islam, meskipun pengalaman manusia penting, namun segala bentuk pengetahuan harus diukur dengan standar kebenaran Ilahi. Pengetahuan manusia yang dibangun tanpa mengacu pada wahyu dapat menyesatkan atau tidak lengkap.

 

Islam menekankan bahwa pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang berasal dari Allah dan diteruskan melalui Rasul-Nya. Proses pembelajaran dalam Islam juga harus melibatkan pemahaman dan penerimaan terhadap kebenaran Ilahi, bukan hanya hasil penalaran manusia semata.

 

Konstruktivisme lebih menekankan pada aspek kognitif dan sosial dari pembelajaran, sedangkan Islam mengakui dimensi spiritual dalam proses memperoleh pengetahuan. Dalam perspektif Islam, pembelajaran tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga harus melibatkan hubungan manusia dengan Allah, yang merupakan sumber segala pengetahuan.

 

Dr. Ahmad Sastra berpendapat bahwa konstruktivisme mengabaikan dimensi spiritual yang penting dalam proses pendidikan Islam. Dalam Islam, pengetahuan tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga harus dilihat dalam konteks akhirat, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Proses pembelajaran harus membimbing seseorang untuk memahami makna kehidupan, tujuan penciptaan, dan keterhubungan antara dunia dan akhirat.

 

Dalam konstruktivisme, peran guru seringkali lebih bersifat sebagai fasilitator atau pembimbing yang mendorong siswa untuk membangun pengetahuan mereka sendiri. Namun, dalam perspektif Islam, peran guru memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih mendalam, yaitu sebagai pembimbing yang juga memberikan teladan dalam aspek moral dan spiritual.

 

Menurut Dr. Ahmad Sastra, konstruktivisme dapat mengurangi otoritas guru dalam memberikan pengetahuan yang benar dan bermanfaat. Dalam Islam, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan duniawi tetapi juga nilai-nilai moral, etika, dan spiritual yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa. Guru dalam Islam tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator tetapi juga sebagai pendidik yang menunjukkan jalan yang benar.

 

Konstruktivisme sering kali dilihat sebagai pendekatan yang lebih menekankan pada pembelajaran berbasis pengalaman individu atau kelompok sosial, yang bisa sangat kontekstual dan lokal. Dalam Islam, ada nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal yang berlaku untuk seluruh umat manusia, yang tidak bergantung pada konstruksi sosial atau individu.

 

Dalam perspektif Islam, pengetahuan tidak hanya bergantung pada pengalaman subyektif, tetapi juga harus mencakup nilai-nilai yang bersifat universal dan mutlak. Oleh karena itu, Dr. Ahmad Sastra mengkritik konstruktivisme yang mungkin cenderung mengabaikan nilai-nilai universal ini dan memfokuskan terlalu banyak pada relativisme sosial atau individualisme.

 

Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap konstruktivisme dari perspektif Islam menekankan bahwa pendekatan ini cenderung mengabaikan dimensi spiritual, wahyu Ilahi, dan nilai-nilai objektif yang ada dalam agama Islam. Islam mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya dibangun melalui pengalaman manusia, tetapi juga melalui wahyu dari Allah, yang memberikan petunjuk yang lebih tinggi dan tidak dapat digantikan oleh pengalaman individu atau sosial.

 

Oleh karena itu, proses pembelajaran dalam Islam harus mempertimbangkan kedua aspek ini: pengetahuan duniawi yang berhubungan dengan pengalaman manusia, dan pengetahuan Ilahi yang bersumber dari wahyu.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 1 Syawal 1446 H – 31 Maret 2025 M : 17.45 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.