oleh : Ahmad Sastra
Konstruktivisme adalah sebuah aliran dalam filsafat
dan teori pembelajaran yang berfokus pada bagaimana pengetahuan dibangun melalui
interaksi aktif individu dengan lingkungan dan pengalaman. Aliran ini
menekankan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja, tetapi
dibangun melalui proses konstruksi mental oleh individu itu sendiri.
Konstruktivisme berpendapat bahwa pengetahuan tidak
diterima secara pasif, melainkan dibangun oleh individu melalui pengalaman
mereka sendiri. Setiap individu mengontruksi makna dari apa yang mereka
pelajari berdasarkan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
Dalam konstruktivisme, belajar dianggap sebagai proses
aktif, di mana individu berperan aktif dalam mencari tahu, mengeksplorasi, dan
menghubungkan informasi yang mereka terima dengan pengetahuan yang sudah mereka
miliki.
Konstruktivisme juga menekankan pentingnya interaksi
sosial dalam pembelajaran. Pembelajaran sering kali terjadi dalam konteks
sosial di mana individu belajar melalui diskusi, kolaborasi, dan berbagi ide
dengan orang lain.
Dua tokoh penting dalam konstruktivisme adalah Jean
Piaget dan Lev Vygotsky. Piaget fokus pada bagaimana anak-anak mengembangkan
pengetahuan melalui tahap perkembangan kognitif, sementara Vygotsky lebih
menekankan pada pengaruh budaya dan konteks sosial dalam pembelajaran.
Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang
menganggap bahwa anak-anak aktif dalam membangun pengetahuan mereka melalui
interaksi dengan lingkungan mereka.
Vygotsky berfokus pada pentingnya budaya dan interaksi
sosial dalam proses pembelajaran. Ia menekankan konsep "zona perkembangan
proksimal" yang menunjukkan perbedaan antara apa yang dapat dipelajari
individu dengan bantuan dan apa yang dapat dipelajari tanpa bantuan.
Pendekatan konstruktivisme sering diterapkan dalam
pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), di mana siswa
dihadapkan pada masalah nyata dan didorong untuk mencari solusi secara aktif
dan kolaboratif.
Aliran konstruktivisme lahir sebagai reaksi terhadap
pandangan-pandangan tradisional dalam pendidikan dan psikologi, yang lebih
menekankan pada penerimaan pengetahuan secara pasif dari guru atau sumber luar.
Konstruktivisme muncul sebagai teori yang menekankan
pentingnya pengalaman dan interaksi individu dalam membangun pengetahuan.
Sejarah kelahirannya melibatkan berbagai pemikiran dan teori yang berkembang
selama abad ke-20.
Konstruktivisme banyak dipengaruhi oleh teori-teori
psikologi kognitif, yang memandang pikiran manusia sebagai alat aktif dalam
mengolah dan membentuk pengetahuan. Dua tokoh penting yang berperan dalam
perkembangan konstruktivisme adalah Jean Piaget dan Lev Vygotsky.
Piaget adalah seorang psikolog Swiss yang
mengembangkan teori perkembangan kognitif yang berpengaruh besar pada
konstruktivisme. Menurut Piaget, anak-anak membangun pengetahuan melalui
interaksi aktif dengan dunia mereka, dan perkembangan kognitif terjadi dalam
serangkaian tahap yang tetap. Ia berpendapat bahwa individu bukan penerima
pasif pengetahuan, melainkan pengontruksi aktif pengetahuan berdasarkan
pengalaman mereka.
Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menekankan pentingnya
konteks sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif. Ia memperkenalkan konsep
"zona perkembangan proksimal" (ZPD), yang menjelaskan area antara apa
yang bisa dilakukan seorang anak secara mandiri dan apa yang bisa dicapai
dengan bantuan orang lain. Vygotsky menganggap bahwa pembelajaran terjadi dalam
interaksi sosial dan berkontribusi pada konstruksi pengetahuan.
Pada awal abad ke-20, behaviorisme mendominasi teori
pembelajaran, yang menekankan pada pengondisian dan pembelajaran melalui
stimulus dan respons. Namun, behaviorisme dianggap kurang memadai dalam
menjelaskan bagaimana individu mengembangkan pengetahuan yang lebih kompleks
dan abstrak.
Konstruktivisme muncul sebagai alternatif, karena
lebih fokus pada proses internal dan cara individu mengorganisir serta
membangun pengetahuan mereka melalui pengalaman, bukan sekadar sebagai respons
terhadap stimulus eksternal.
Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, aliran
konstruktivisme mulai diterapkan dalam dunia pendidikan, terutama dalam
pengembangan metode pembelajaran yang lebih aktif dan berbasis pada pengalaman.
Jerome Bruner, seorang psikolog Amerika, adalah salah
satu tokoh yang mengembangkan konstruktivisme dalam pendidikan. Bruner berpendapat
bahwa pembelajaran harus didasarkan pada konsep-konsep yang lebih luas, dan
siswa harus terlibat langsung dalam proses penemuan pengetahuan.
Jerome Bruner (1915-2016): Bruner memperkenalkan teori
"discovery learning" (pembelajaran penemuan), di mana siswa
diharapkan menemukan pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman langsung dan
pemecahan masalah. Ia juga berpendapat bahwa kurikulum harus disusun dengan
mempertimbangkan struktur pengetahuan yang memungkinkan siswa membangun
pemahaman secara bertahap.
Pada tahun 1980-an dan seterusnya, konstruktivisme
semakin berkembang dalam berbagai metode pengajaran, seperti pembelajaran
berbasis masalah (problem-based learning), pembelajaran kolaboratif, dan pembelajaran
kontekstual. Ide-ide konstruktivisme kini telah menginspirasi banyak model
pendidikan yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, pemecahan masalah,
dan kolaborasi antar siswa dalam proses pembelajaran.
Seiring dengan perkembangan teknologi, konstruktivisme
juga dipengaruhi oleh kemajuan dalam bidang teknologi pendidikan. Pembelajaran
berbasis komputer dan internet memungkinkan pembelajaran yang lebih interaktif
dan partisipatif, sesuai dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Siswa dapat
mengeksplorasi ide-ide secara lebih mendalam, bekerja sama dengan rekan-rekan
mereka di seluruh dunia, dan membangun pengetahuan dengan cara yang lebih
fleksibel dan pribadi.
Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap aliran konstruktivisme,
ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra, seorang pemikir dan cendekiawan Islam,
memberikan kritik terhadap aliran konstruktivisme, terutama dalam konteks
perspektif Islam. Kritik ini terutama berkaitan dengan bagaimana
konstruktivisme menganggap pengetahuan sebagai hasil konstruksi pribadi atau
sosial tanpa memperhitungkan dimensi spiritual dan wahyu yang dianggap penting
dalam perspektif Islam.
Salah satu kritik utama yang diajukan oleh Dr. Ahmad
Sastra adalah bahwa konstruktivisme sering kali cenderung melihat pengetahuan
sebagai sesuatu yang relatif, bergantung pada pengalaman dan interpretasi
individu. Dalam Islam, pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
objektif, dan ada kebenaran mutlak yang bersumber dari wahyu Tuhan (Al-Qur'an
dan Hadis). Menurut perspektif Islam, pengetahuan tidak hanya dibangun melalui
pengalaman manusia semata, tetapi juga diperoleh melalui wahyu Ilahi yang
menjadi petunjuk hidup yang mutlak dan tak terbantahkan.
Dalam pandangan Islam, pengetahuan bukanlah sekadar
hasil dari konstruksi individu atau komunitas. Ada sumber pengetahuan yang
lebih tinggi dan pasti, yaitu wahyu yang diturunkan oleh Allah. Oleh karena
itu, pengetahuan yang dibangun melalui proses konstruktivisme dapat dianggap
tidak lengkap karena tidak selalu mempertimbangkan dimensi wahyu yang dianggap
esensial dalam Islam.
Konstruktivisme seringkali mengutamakan pengalaman
manusia dalam membentuk pengetahuan, yang menurut Dr. Ahmad Sastra, dapat
mengarah pada subjektivitas dan relativisme. Dalam perspektif Islam, meskipun
pengalaman manusia penting, namun segala bentuk pengetahuan harus diukur dengan
standar kebenaran Ilahi. Pengetahuan manusia yang dibangun tanpa mengacu pada
wahyu dapat menyesatkan atau tidak lengkap.
Islam menekankan bahwa pengetahuan sejati adalah
pengetahuan yang berasal dari Allah dan diteruskan melalui Rasul-Nya. Proses
pembelajaran dalam Islam juga harus melibatkan pemahaman dan penerimaan
terhadap kebenaran Ilahi, bukan hanya hasil penalaran manusia semata.
Konstruktivisme lebih menekankan pada aspek kognitif
dan sosial dari pembelajaran, sedangkan Islam mengakui dimensi spiritual dalam
proses memperoleh pengetahuan. Dalam perspektif Islam, pembelajaran tidak hanya
mencakup aspek kognitif, tetapi juga harus melibatkan hubungan manusia dengan
Allah, yang merupakan sumber segala pengetahuan.
Dr. Ahmad Sastra berpendapat bahwa konstruktivisme
mengabaikan dimensi spiritual yang penting dalam proses pendidikan Islam. Dalam
Islam, pengetahuan tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga harus dilihat
dalam konteks akhirat, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Proses pembelajaran harus membimbing seseorang untuk memahami makna kehidupan,
tujuan penciptaan, dan keterhubungan antara dunia dan akhirat.
Dalam konstruktivisme, peran guru seringkali lebih
bersifat sebagai fasilitator atau pembimbing yang mendorong siswa untuk
membangun pengetahuan mereka sendiri. Namun, dalam perspektif Islam, peran guru
memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan lebih mendalam, yaitu sebagai
pembimbing yang juga memberikan teladan dalam aspek moral dan spiritual.
Menurut Dr. Ahmad Sastra, konstruktivisme dapat
mengurangi otoritas guru dalam memberikan pengetahuan yang benar dan bermanfaat.
Dalam Islam, guru tidak hanya mengajarkan pengetahuan duniawi tetapi juga
nilai-nilai moral, etika, dan spiritual yang sangat penting dalam membentuk
karakter siswa. Guru dalam Islam tidak hanya berfungsi sebagai fasilitator
tetapi juga sebagai pendidik yang menunjukkan jalan yang benar.
Konstruktivisme sering kali dilihat sebagai pendekatan
yang lebih menekankan pada pembelajaran berbasis pengalaman individu atau
kelompok sosial, yang bisa sangat kontekstual dan lokal. Dalam Islam, ada
nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal yang berlaku untuk seluruh umat
manusia, yang tidak bergantung pada konstruksi sosial atau individu.
Dalam perspektif Islam, pengetahuan tidak hanya
bergantung pada pengalaman subyektif, tetapi juga harus mencakup nilai-nilai
yang bersifat universal dan mutlak. Oleh karena itu, Dr. Ahmad Sastra
mengkritik konstruktivisme yang mungkin cenderung mengabaikan nilai-nilai
universal ini dan memfokuskan terlalu banyak pada relativisme sosial atau
individualisme.
Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap konstruktivisme dari
perspektif Islam menekankan bahwa pendekatan ini cenderung mengabaikan dimensi
spiritual, wahyu Ilahi, dan nilai-nilai objektif yang ada dalam agama Islam.
Islam mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya dibangun melalui pengalaman
manusia, tetapi juga melalui wahyu dari Allah, yang memberikan petunjuk yang
lebih tinggi dan tidak dapat digantikan oleh pengalaman individu atau sosial.
Oleh karena itu, proses pembelajaran dalam Islam harus
mempertimbangkan kedua aspek ini: pengetahuan duniawi yang berhubungan dengan
pengalaman manusia, dan pengetahuan Ilahi yang bersumber dari wahyu.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 1 Syawal 1446 H – 31 Maret
2025 M : 17.45 WIB)