[13] Tadarus Pemikiran ATHEISME DAN MATINYA AKAL MANUSIA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Ateisme adalah pandangan atau keyakinan yang menolak atau tidak mempercayai adanya Tuhan atau dewa-dewa. Orang yang menganut ateisme disebut ateis. Secara umum, ateisme bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari penolakan terhadap agama-agama tertentu hingga penolakan total terhadap konsep Tuhan. Atheisme itu semacam pertanda matinya akal manusia, sebab keberadaan Tuhan justru sangat mudah dipahami oleh akal manusia.

 

Beberapa ateis menganggap bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk meyakini adanya Tuhan, dan oleh karena itu, mereka memilih untuk tidak percaya. Banyak ateis berpendapat bahwa penjelasan ilmiah terhadap alam semesta dan kehidupan lebih rasional dan dapat dibuktikan daripada penjelasan agama yang sering kali didasarkan pada keyakinan dan tidak dapat diuji.

 

Ada juga yang menjadi ateis karena pengalaman pribadi atau karena mereka merasa bahwa agama tidak memberikan jawaban yang memadai atas masalah-masalah hidup, atau bahkan akibat dari penyelewengan dan kekerasan yang dilakukan atas nama agama.

 

Sejarah lahirnya paham ateisme sangat terkait dengan perkembangan pemikiran filsafat, sains, dan agama sepanjang waktu. Meskipun pandangan ateistik telah ada sejak zaman kuno, ateisme modern muncul dan berkembang melalui serangkaian peristiwa intelektual yang berkelanjutan.

 

Pemikiran ateistik pertama bisa ditemukan dalam tradisi filsafat Yunani. Filsuf-filsuf seperti Demokritos dan Epikuros mengembangkan teori bahwa alam semesta terdiri dari atom-atom yang bergerak secara acak dan tidak dipengaruhi oleh kekuatan ilahi. Epikuros, misalnya, memandang dewa-dewa tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia.

 

Di India, beberapa aliran filsafat, seperti Cārvāka (atau Lokāyata), menekankan materialisme dan empirisme, yang pada dasarnya mengabaikan atau menolak gagasan tentang Tuhan atau kehidupan setelah mati. Cārvāka mengajarkan bahwa hanya dunia material yang nyata dan tidak ada kehidupan setelah kematian.

 

Selama Abad Pertengahan, pandangan ateistik lebih banyak disembunyikan atau diabaikan karena dominasi gereja. Namun, ada beberapa pemikir yang mulai mempertanyakan dogma agama. Misalnya, Pierre Bayle, seorang filsuf Prancis pada akhir abad ke-17, mengajukan argumen yang kritis terhadap agama dan mengusulkan bahwa rasio manusia lebih bisa diandalkan daripada wahyu agama.

 

Filsuf-filsuf seperti Voltaire dan Denis Diderot secara terbuka mengkritik agama dan dogma-dogma gereja. Meskipun mereka tidak semuanya sepenuhnya ateis, mereka mendukung pemikiran yang meragukan otoritas agama dan mendorong masyarakat untuk berpikir secara rasional.

 

Seorang filsuf Belanda yang hidup pada abad ke-17, Spinoza, mengembangkan pandangan panteistik, yaitu gagasan bahwa Tuhan dan alam semesta adalah satu dan sama. Meskipun bukan ateis dalam pengertian modern, pemikirannya menantang pandangan tradisional tentang Tuhan yang personal.

 

Teori evolusi oleh seleksi alam yang diajukan oleh Charles Darwin pada tahun 1859 mengubah cara pandang manusia tentang asal-usul kehidupan. Teori ini memberikan penjelasan ilmiah untuk keragaman hidup tanpa memerlukan campur tangan kekuatan ilahi.

 

Filsuf Jerman Nietzsche terkenal dengan pernyataannya "Tuhan telah mati" ("Gott ist tot"), yang merujuk pada hilangnya pengaruh agama dalam kehidupan modern. Nietzsche mengkritik agama sebagai penghalang untuk mencapai potensi manusia yang penuh dan menekankan pentingnya kebebasan individu.

 

Karl Marx juga mengembangkan pandangan ateistik melalui karyanya tentang materialisme sejarah. Marx melihat agama sebagai "opium rakyat," yaitu suatu bentuk pelarian dari penderitaan duniawi yang menghalangi perubahan sosial.

 

Pada abad ke-20 dan ke-21, ateisme berkembang lebih luas, terutama dengan munculnya gerakan sekuler dan pengaruh budaya ilmiah.  Dalam bukunya The God Delusion (2006), Richard Dawkins mengkritik keberadaan Tuhan dan mempromosikan ateisme sebagai pandangan rasional berdasarkan sains.

 

Christopher Hitchens, seorang jurnalis dan penulis, Hitchens, menulis buku God Is Not Great (2007), yang mengkritik agama dan mengemukakan argumen kuat untuk ateisme. Daniel Dennett dan Sam Harris juga menjadi tokoh terkenal dalam gerakan ateisme baru, yang menekankan pentingnya pemikiran rasional dan sains untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta dan kehidupan manusia.

Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap paham atheism, ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra adalah seorang intelektual dan pemikir Muslim yang banyak mengkaji masalah-masalah filsafat dan agama, termasuk masalah ateisme. Dalam perspektif Islam, ateisme seringkali dikritik karena bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam yang meyakini adanya Tuhan yang Maha Esa, yaitu Allah SWT, serta keyakinan terhadap wahyu-Nya yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW.

 

Ateisme mengingkari keberadaan Tuhan, yang dalam Islam adalah inti dari aqidah (keimanan). Dr. Ahmad Sastra kemungkinan besar akan mengkritik paham ini dengan menekankan bahwa dalam Islam, keyakinan terhadap Tuhan adalah fondasi pertama yang tidak bisa digoyahkan.

 

Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menegaskan tentang penciptaan alam semesta dan segala isinya oleh Tuhan (Allah), serta segala keteraturan dan keindahan alam sebagai bukti eksistensi-Nya. Contoh ayat Al-Qur'an yang mengkritik pemikiran ateisme: "Apakah mereka tidak melihat langit dan bumi yang dahulu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya?" (QS. Al-Anbiya: 30).

 

Dalam perspektif Islam, akal manusia memang diberi kemampuan untuk berpikir dan merenung, tetapi ada batas-batas tertentu yang tidak dapat dijangkau oleh akal semata. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan menekankan bahwa meskipun sains dan rasio adalah alat yang penting untuk memahami alam semesta, mereka tidak mampu menjawab segala hal, terutama yang berkaitan dengan asal-usul alam semesta, makna hidup, dan tujuan penciptaan. Ini adalah ranah keimanan dan wahyu.

 

Islam mengajarkan bahwa akal harus sejalan dengan wahyu dari Tuhan. Dalam hal ini, ateisme yang mengandalkan rasio semata untuk menjelaskan segala sesuatu sering kali dianggap oleh Dr. Ahmad Sastra sebagai pendekatan yang terbatas, karena tidak mengakui adanya dimensi spiritual atau yang lebih tinggi dari sekadar materi.

 

Dalam pandangan Islam, akal dan wahyu (Al-Qur'an dan Hadis) adalah dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan berpendapat bahwa ateisme cenderung menganggap bahwa sains dan agama (termasuk wahyu) berada dalam konflik, sementara dalam Islam, keduanya justru dapat berjalan berdampingan.

 

Al-Qur'an sering mengajak umat manusia untuk menggunakan akal mereka untuk merenung tentang ciptaan Allah. Ayat dalam Al-Qur'an yang mengajak umat manusia untuk berpikir dan merenung: "Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." (QS. Al Imran: 190).

 

Dr. Ahmad Sastra kemungkinan besar akan mengkritik ateisme dari segi moralitas. Dalam Islam, moralitas dan etika bersumber dari wahyu dan ajaran Tuhan. Tanpa kepercayaan kepada Tuhan, Islam berpendapat bahwa tidak ada dasar objektif yang bisa mengatur moralitas manusia.

 

Meskipun ateisme sering mengklaim dapat mengembangkan sistem etika yang baik berdasarkan rasionalitas, Dr. Ahmad Sastra mungkin berpendapat bahwa moralitas yang sejati dan universal tidak bisa terlepas dari keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Pencipta.

 

Dalam pandangan Islam, segala perbuatan baik dan buruk diukur berdasarkan wahyu Tuhan. Tanpa panduan ilahi, akan sulit bagi manusia untuk menentukan secara objektif apa yang benar dan salah, terutama dalam situasi yang kompleks.

 

Ateisme sering kali timbul sebagai bentuk pencarian makna hidup di dunia ini. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan menyampaikan bahwa Islam menawarkan makna hidup yang lebih mendalam dan memuaskan. Dalam pandangan Islam, kehidupan di dunia ini adalah ujian, dan tujuan hidup adalah untuk menyembah Allah serta mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan.

 

Ateisme, dalam perspektif Islam, sering dipandang sebagai bentuk keputusasaan atau ketidakmampuan untuk menerima makna hidup yang lebih tinggi. Tanpa pengakuan terhadap Tuhan, hidup akan terasa hampa dan tidak memiliki tujuan yang jelas, menurut pandangan Islam.

 

Ateisme juga mengingkari adanya kehidupan setelah mati. Dalam Islam, kehidupan setelah mati adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan berpendapat bahwa ateisme, yang mengabaikan kehidupan akhirat, adalah pandangan yang menyesatkan, karena manusia tidak hanya hidup untuk kehidupan dunia saja, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal di akhirat, yang diukur berdasarkan amal perbuatan selama hidup di dunia.

 

Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap paham ateisme dalam perspektif Islam berfokus pada penolakan terhadap keberadaan Tuhan, keterbatasan akal manusia, hubungan antara akal dan wahyu, serta tantangan ateisme dalam menyediakan dasar moral yang kuat dan makna hidup yang sebenarnya. Dari perspektif Islam, paham ateisme dianggap sebagai pandangan yang keliru karena tidak mengakui eksistensi Tuhan, wahyu, dan kehidupan setelah mati yang menjadi inti dari ajaran Islam.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 30 Ramadhan 1446 H – 30 Maret 2025 M : 20.45 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.