Oleh : Ahmad Sastra
Ateisme adalah pandangan atau keyakinan yang menolak
atau tidak mempercayai adanya Tuhan atau dewa-dewa. Orang yang menganut ateisme
disebut ateis. Secara umum, ateisme bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai
dari penolakan terhadap agama-agama tertentu hingga penolakan total terhadap
konsep Tuhan. Atheisme itu semacam pertanda matinya akal manusia, sebab
keberadaan Tuhan justru sangat mudah dipahami oleh akal manusia.
Beberapa ateis menganggap bahwa tidak ada bukti yang
cukup untuk meyakini adanya Tuhan, dan oleh karena itu, mereka memilih untuk
tidak percaya. Banyak ateis berpendapat bahwa penjelasan ilmiah terhadap alam
semesta dan kehidupan lebih rasional dan dapat dibuktikan daripada penjelasan
agama yang sering kali didasarkan pada keyakinan dan tidak dapat diuji.
Ada juga yang menjadi ateis karena pengalaman pribadi
atau karena mereka merasa bahwa agama tidak memberikan jawaban yang memadai
atas masalah-masalah hidup, atau bahkan akibat dari penyelewengan dan kekerasan
yang dilakukan atas nama agama.
Sejarah lahirnya paham ateisme sangat terkait dengan
perkembangan pemikiran filsafat, sains, dan agama sepanjang waktu. Meskipun
pandangan ateistik telah ada sejak zaman kuno, ateisme modern muncul dan
berkembang melalui serangkaian peristiwa intelektual yang berkelanjutan.
Pemikiran ateistik pertama bisa ditemukan dalam
tradisi filsafat Yunani. Filsuf-filsuf seperti Demokritos dan Epikuros mengembangkan
teori bahwa alam semesta terdiri dari atom-atom yang bergerak secara acak dan
tidak dipengaruhi oleh kekuatan ilahi. Epikuros, misalnya, memandang dewa-dewa
tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia.
Di India, beberapa aliran filsafat, seperti Cārvāka
(atau Lokāyata), menekankan materialisme dan empirisme, yang pada dasarnya
mengabaikan atau menolak gagasan tentang Tuhan atau kehidupan setelah mati.
Cārvāka mengajarkan bahwa hanya dunia material yang nyata dan tidak ada
kehidupan setelah kematian.
Selama Abad Pertengahan, pandangan ateistik lebih
banyak disembunyikan atau diabaikan karena dominasi gereja. Namun, ada beberapa
pemikir yang mulai mempertanyakan dogma agama. Misalnya, Pierre Bayle, seorang
filsuf Prancis pada akhir abad ke-17, mengajukan argumen yang kritis terhadap
agama dan mengusulkan bahwa rasio manusia lebih bisa diandalkan daripada wahyu
agama.
Filsuf-filsuf seperti Voltaire dan Denis Diderot
secara terbuka mengkritik agama dan dogma-dogma gereja. Meskipun mereka tidak
semuanya sepenuhnya ateis, mereka mendukung pemikiran yang meragukan otoritas
agama dan mendorong masyarakat untuk berpikir secara rasional.
Seorang filsuf Belanda yang hidup pada abad ke-17, Spinoza,
mengembangkan pandangan panteistik, yaitu gagasan bahwa Tuhan dan alam semesta
adalah satu dan sama. Meskipun bukan ateis dalam pengertian modern,
pemikirannya menantang pandangan tradisional tentang Tuhan yang personal.
Teori evolusi oleh seleksi alam yang diajukan oleh Charles
Darwin pada tahun 1859 mengubah cara pandang manusia tentang asal-usul
kehidupan. Teori ini memberikan penjelasan ilmiah untuk keragaman hidup tanpa
memerlukan campur tangan kekuatan ilahi.
Filsuf Jerman Nietzsche terkenal dengan pernyataannya
"Tuhan telah mati" ("Gott ist tot"), yang merujuk pada
hilangnya pengaruh agama dalam kehidupan modern. Nietzsche mengkritik agama
sebagai penghalang untuk mencapai potensi manusia yang penuh dan menekankan
pentingnya kebebasan individu.
Karl Marx juga mengembangkan pandangan ateistik
melalui karyanya tentang materialisme sejarah. Marx melihat agama sebagai
"opium rakyat," yaitu suatu bentuk pelarian dari penderitaan duniawi
yang menghalangi perubahan sosial.
Pada abad ke-20 dan ke-21, ateisme berkembang lebih
luas, terutama dengan munculnya gerakan sekuler dan pengaruh budaya ilmiah. Dalam bukunya The God Delusion (2006), Richard
Dawkins mengkritik keberadaan Tuhan dan mempromosikan ateisme sebagai pandangan
rasional berdasarkan sains.
Christopher Hitchens, seorang jurnalis dan penulis, Hitchens,
menulis buku God Is Not Great (2007), yang mengkritik agama dan
mengemukakan argumen kuat untuk ateisme. Daniel Dennett dan Sam Harris juga
menjadi tokoh terkenal dalam gerakan ateisme baru, yang menekankan pentingnya
pemikiran rasional dan sains untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang alam
semesta dan kehidupan manusia.
Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap paham atheism,
ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra adalah seorang intelektual dan pemikir Muslim
yang banyak mengkaji masalah-masalah filsafat dan agama, termasuk masalah
ateisme. Dalam perspektif Islam, ateisme seringkali dikritik karena
bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama Islam yang meyakini adanya
Tuhan yang Maha Esa, yaitu Allah SWT, serta keyakinan terhadap wahyu-Nya yang
diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW.
Ateisme mengingkari keberadaan Tuhan, yang dalam Islam
adalah inti dari aqidah (keimanan). Dr. Ahmad Sastra kemungkinan besar akan
mengkritik paham ini dengan menekankan bahwa dalam Islam, keyakinan terhadap
Tuhan adalah fondasi pertama yang tidak bisa digoyahkan.
Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang menegaskan tentang
penciptaan alam semesta dan segala isinya oleh Tuhan (Allah), serta segala
keteraturan dan keindahan alam sebagai bukti eksistensi-Nya. Contoh ayat
Al-Qur'an yang mengkritik pemikiran ateisme: "Apakah mereka tidak melihat
langit dan bumi yang dahulu keduanya adalah suatu yang padu, kemudian Kami
pisahkan keduanya?" (QS. Al-Anbiya: 30).
Dalam perspektif Islam, akal manusia memang diberi
kemampuan untuk berpikir dan merenung, tetapi ada batas-batas tertentu yang
tidak dapat dijangkau oleh akal semata. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan
menekankan bahwa meskipun sains dan rasio adalah alat yang penting untuk
memahami alam semesta, mereka tidak mampu menjawab segala hal, terutama yang
berkaitan dengan asal-usul alam semesta, makna hidup, dan tujuan penciptaan.
Ini adalah ranah keimanan dan wahyu.
Islam mengajarkan bahwa akal harus sejalan dengan wahyu
dari Tuhan. Dalam hal ini, ateisme yang mengandalkan rasio semata untuk
menjelaskan segala sesuatu sering kali dianggap oleh Dr. Ahmad Sastra sebagai
pendekatan yang terbatas, karena tidak mengakui adanya dimensi spiritual atau
yang lebih tinggi dari sekadar materi.
Dalam pandangan Islam, akal dan wahyu (Al-Qur'an dan
Hadis) adalah dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi. Dr. Ahmad Sastra
mungkin akan berpendapat bahwa ateisme cenderung menganggap bahwa sains dan
agama (termasuk wahyu) berada dalam konflik, sementara dalam Islam, keduanya
justru dapat berjalan berdampingan.
Al-Qur'an sering mengajak umat manusia untuk
menggunakan akal mereka untuk merenung tentang ciptaan Allah. Ayat dalam
Al-Qur'an yang mengajak umat manusia untuk berpikir dan merenung: "Sesungguhnya
pada penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang,
terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal." (QS. Al Imran: 190).
Dr. Ahmad Sastra kemungkinan besar akan mengkritik
ateisme dari segi moralitas. Dalam Islam, moralitas dan etika bersumber dari
wahyu dan ajaran Tuhan. Tanpa kepercayaan kepada Tuhan, Islam berpendapat bahwa
tidak ada dasar objektif yang bisa mengatur moralitas manusia.
Meskipun ateisme sering mengklaim dapat mengembangkan
sistem etika yang baik berdasarkan rasionalitas, Dr. Ahmad Sastra mungkin
berpendapat bahwa moralitas yang sejati dan universal tidak bisa terlepas dari
keyakinan akan adanya Tuhan yang Maha Pencipta.
Dalam pandangan Islam, segala perbuatan baik dan buruk
diukur berdasarkan wahyu Tuhan. Tanpa panduan ilahi, akan sulit bagi manusia
untuk menentukan secara objektif apa yang benar dan salah, terutama dalam
situasi yang kompleks.
Ateisme sering kali timbul sebagai bentuk pencarian
makna hidup di dunia ini. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan menyampaikan bahwa
Islam menawarkan makna hidup yang lebih mendalam dan memuaskan. Dalam pandangan
Islam, kehidupan di dunia ini adalah ujian, dan tujuan hidup adalah untuk
menyembah Allah serta mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan.
Ateisme, dalam perspektif Islam, sering dipandang
sebagai bentuk keputusasaan atau ketidakmampuan untuk menerima makna hidup yang
lebih tinggi. Tanpa pengakuan terhadap Tuhan, hidup akan terasa hampa dan tidak
memiliki tujuan yang jelas, menurut pandangan Islam.
Ateisme juga mengingkari adanya kehidupan setelah
mati. Dalam Islam, kehidupan setelah mati adalah bagian tak terpisahkan dari
iman. Dr. Ahmad Sastra mungkin akan berpendapat bahwa ateisme, yang mengabaikan
kehidupan akhirat, adalah pandangan yang menyesatkan, karena manusia tidak
hanya hidup untuk kehidupan dunia saja, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal
di akhirat, yang diukur berdasarkan amal perbuatan selama hidup di dunia.
Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap paham ateisme dalam
perspektif Islam berfokus pada penolakan terhadap keberadaan Tuhan,
keterbatasan akal manusia, hubungan antara akal dan wahyu, serta tantangan
ateisme dalam menyediakan dasar moral yang kuat dan makna hidup yang
sebenarnya. Dari perspektif Islam, paham ateisme dianggap sebagai pandangan
yang keliru karena tidak mengakui eksistensi Tuhan, wahyu, dan kehidupan
setelah mati yang menjadi inti dari ajaran Islam.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 30 Ramadhan 1446 H – 30 Maret
2025 M : 20.45 WIB)