[12] Tadarus Pemikiran AGNOSTISISME DAN KONTRA DIMENSI METAFISIKA



 

Oleh : Ahmad Sastra

 

Agnostik adalah pandangan atau sikap filsafat yang menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan atau hal-hal metafisis lainnya (seperti kehidupan setelah mati) tidak dapat diketahui atau dipahami secara pasti oleh manusia. Seorang agnostik berpendapat bahwa kita tidak bisa membuktikan secara rasional atau empiris apakah Tuhan ada atau tidak, atau apa yang terjadi setelah kematian, karena keterbatasan pengetahuan manusia.

 

Agnostik tidak secara tegas mengakui atau menolak adanya Tuhan. Sebagai contoh, seorang agnostik mungkin mengatakan bahwa mereka tidak yakin tentang keberadaan Tuhan, atau mungkin menganggap bahwa hal tersebut tidak dapat diketahui atau dibuktikan dalam kehidupan manusia.

 

Ada dua jenis utama agnostic. Pertama, Agnostik kuat yakni mereka yang berpendapat bahwa kita tidak dapat mengetahui apapun tentang Tuhan atau hal-hal metafisis. Kedua, agnostik lemah yaitu mereka yang berpendapat bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu sekarang, mungkin suatu hari kita bisa mengetahui lebih banyak tentang hal-hal metafisis.

 

Paham agnostik pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf dan ilmuwan asal Inggris, Thomas Henry Huxley pada abad ke-19. Huxley dikenal sebagai "Bulldog of Darwin," karena perannya yang aktif mendukung teori evolusi Charles Darwin dan mempertahankan pandangan ilmiah terhadap agama dan sains.

 

Paham agnostik muncul pada masa ketika ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama, khususnya di Eropa. Pada masa itu, pemikiran ilmiah mulai berkembang pesat, dan teori-teori ilmiah yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti teori evolusi, mulai menarik perhatian banyak orang.

 

Huxley menciptakan istilah "agnosticism" pada tahun 1869. Ia menggunakannya untuk menjelaskan pandangannya mengenai pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti keberadaan Tuhan dan kehidupan setelah mati, yang menurutnya tidak bisa dijawab dengan bukti-bukti rasional atau ilmiah.

 

Dalam esainya yang berjudul "Agnosticism" (1889), Huxley menjelaskan bahwa seorang agnostik adalah orang yang percaya bahwa pengetahuan tentang hal-hal spiritual atau metafisik tidak bisa dicapai melalui bukti empiris atau pembuktian rasional. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki keterbatasan intelektual dalam hal-hal seperti ini, dan karena itu, kita harus menghindari klaim-klaim yang tidak dapat dibuktikan secara pasti.

 

Huxley menekankan bahwa agama, khususnya agama Kristen, sering kali membuat klaim tentang hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Dia ingin menekankan bahwa posisi agnostik bukanlah bentuk penolakan terhadap agama, melainkan pengakuan atas keterbatasan pengetahuan manusia.

 

Konsep agnostisisme kemudian berkembang dan mempengaruhi banyak filsuf dan ilmuwan lainnya. Meskipun paham ini lebih dikenal pada abad ke-19, pandangan agnostik semakin populer di kalangan orang-orang yang skeptis terhadap klaim-klaim metafisik dan religius tanpa bukti yang jelas.

 

Agnostisisme juga dapat dipandang sebagai reaksi terhadap paham-paham yang terlalu dogmatis, baik dalam konteks agama maupun dalam konteks ilmiah. Seringkali, para agnostik lebih memilih sikap terbuka dan skeptis terhadap klaim yang tidak dapat dibuktikan.

 

Setelah Huxley, konsep agnostik semakin diterima dalam dunia filsafat dan sains, dan sering kali dianggap sebagai sikap tengah antara ateisme (penolakan terhadap Tuhan) dan teisme (kepercayaan terhadap Tuhan). Banyak tokoh intelektual, baik dari kalangan ilmuwan maupun filsuf, mengadopsi pandangan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan manusia.

 

Secara keseluruhan, paham agnostik lahir sebagai respons terhadap pertanyaan besar mengenai keberadaan Tuhan dan realitas metafisik, dengan penekanan pada keterbatasan manusia dalam memperoleh pengetahuan pasti tentang hal tersebut.

 

Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap paham agnostic, ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra, seorang cendekiawan dan intelektual Muslim, memberikan kritik terhadap paham agnostik dari perspektif Islam. Sebagai seorang pemikir yang memiliki latar belakang dalam studi Islam dan filsafat, Dr. Ahmad Sastra melihat paham agnostik dalam konteks yang berbeda dari pandangan Islam yang jelas dan tegas mengenai keberadaan Tuhan dan kehidupan setelah mati.

 

Salah satu kritik utama Dr. Ahmad Sastra adalah bahwa paham agnostik menekankan keterbatasan akal manusia dalam mengetahui realitas metafisik, tetapi dalam Islam, akal manusia dipandang sebagai anugerah dari Tuhan yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran dan mengenal Tuhan. Akal yang sehat dalam Islam seharusnya mampu menemukan bukti-bukti yang mendukung eksistensi Tuhan melalui penciptaan alam semesta, keindahan, dan keteraturan hukum alam yang ada.

 

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hanya bergantung pada akal tetapi juga pada wahyu (Al-Qur'an dan Hadis) untuk mengetahui hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal semata. Dalam pandangan Islam, meskipun ada keterbatasan pada akal manusia, iman dan wahyu memberikan jalan yang jelas menuju pengetahuan yang lebih tinggi.

 

Agnostik, menurut Dr. Ahmad Sastra, cenderung meragukan kebenaran agama karena menganggap bahwa hal-hal metafisik tidak bisa diketahui dengan pasti. Dalam perspektif Islam, keimanan bukanlah sekadar masalah pengetahuan rasional atau empiris. Keimanan kepada Tuhan dan ajaran agama dalam Islam merupakan keyakinan yang datang dari hati dan dibimbing oleh wahyu yang jelas.

 

Agnostik berfokus pada keraguan dan ketidakpastian, sementara Islam justru menekankan keyakinan kepada Tuhan yang dapat dibuktikan melalui pengalaman spiritual, ayat-ayat Al-Qur'an, dan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang nyata di alam semesta. Dalam Islam, iman kepada Allah adalah dasar dari seluruh ajaran hidup, yang tidak hanya mengandalkan bukti-bukti fisik atau rasional semata.

 

Dr. Ahmad Sastra menganggap bahwa paham agnostik, meskipun dapat dianggap sebagai posisi yang lebih moderat antara ateisme dan teisme, tetap tidak memberikan jawaban yang memadai terhadap pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensi dan tujuan hidup. Agnostik, dalam pandangannya, lebih banyak berfokus pada keraguan dan ketidakpastian, namun tidak memberikan solusi jelas mengenai arah hidup dan tujuan akhir manusia.

 

Islam, di sisi lain, memberikan jawaban komprehensif terhadap tujuan hidup manusia, yang tercermin dalam konsep ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Ajaran Islam tentang akhlak, syariat, dan spiritualitas memberikan manusia panduan yang jelas dalam mencari kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

Dr. Ahmad Sastra menegaskan bahwa dalam Islam, keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang sudah jelas dan tidak perlu diragukan. Agnostik mungkin menganggap bahwa Tuhan atau eksistensi Tuhan adalah hal yang tidak dapat diketahui dengan pasti, namun Islam mengajarkan bahwa Tuhan itu ada dan eksistensinya dapat dibuktikan melalui berbagai tanda-tanda alam dan pengalaman spiritual. Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan ciptaan Tuhan sebagai bukti adanya pencipta.

 

Contoh ayat yang relevan adalah dalam surah Al-Imran (3:190-191) yang berbicara tentang keajaiban ciptaan Tuhan yang dapat mengarah pada pengetahuan tentang Tuhan: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal."

 

Agnostik lebih banyak berfokus pada ketidakmampuan manusia untuk mengetahui Tuhan dengan pasti, sementara Islam mengajarkan bahwa meskipun pengetahuan manusia terbatas, Tuhan tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh akal manusia.

 

Keimanan dalam Islam mengajarkan bahwa keyakinan terhadap Tuhan bukan semata-mata bergantung pada pengetahuan rasional, tetapi juga pada pengalaman spiritual dan kepasrahan terhadap kehendak Tuhan. Dr. Ahmad Sastra mungkin menilai bahwa agnostik terlalu mengedepankan rasionalisme dan meremehkan dimensi spiritual yang ada dalam agama.

 

Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap paham agnostik dari perspektif Islam berfokus pada dua hal utama: pertama, bahwa Islam menganggap akal manusia sebagai sarana untuk menemukan Tuhan dan bukan alasan untuk meragukan-Nya.

 

Kedua, bahwa Islam memberikan jawaban yang lebih pasti dan komprehensif mengenai eksistensi Tuhan dan tujuan hidup manusia. Agnostik, dalam pandangan ini, mungkin dianggap sebagai posisi yang tidak memberikan solusi definitif terhadap pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan dan Tuhan.

 

(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 30 Ramadhan 1446 H – 30 Maret 2025 M : 20.08 WIB)

 

__________________________________________ Website : https://www.ahmadsastra.com Twitter : https://twitter.com/@ahmadsastra1 Facebook : https://facebook.com/sastraahmad FansPage: https://facebook.com/ahmadsastra76 Channel Telegram : https://t.me/ahmadsastraofficial Instagram : https://instagram.com/sastraahmad
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.