Oleh : Ahmad Sastra
Agnostik adalah pandangan atau sikap filsafat yang
menyatakan bahwa pengetahuan tentang Tuhan atau hal-hal metafisis lainnya
(seperti kehidupan setelah mati) tidak dapat diketahui atau dipahami secara
pasti oleh manusia. Seorang agnostik berpendapat bahwa kita tidak bisa
membuktikan secara rasional atau empiris apakah Tuhan ada atau tidak, atau apa
yang terjadi setelah kematian, karena keterbatasan pengetahuan manusia.
Agnostik tidak secara tegas mengakui atau menolak
adanya Tuhan. Sebagai contoh, seorang agnostik mungkin mengatakan bahwa mereka
tidak yakin tentang keberadaan Tuhan, atau mungkin menganggap bahwa hal
tersebut tidak dapat diketahui atau dibuktikan dalam kehidupan manusia.
Ada dua jenis utama agnostic. Pertama, Agnostik kuat
yakni mereka yang berpendapat bahwa kita tidak dapat mengetahui apapun tentang
Tuhan atau hal-hal metafisis. Kedua, agnostik lemah yaitu mereka yang
berpendapat bahwa meskipun kita mungkin tidak tahu sekarang, mungkin suatu hari
kita bisa mengetahui lebih banyak tentang hal-hal metafisis.
Paham agnostik pertama kali diperkenalkan oleh seorang
filsuf dan ilmuwan asal Inggris, Thomas Henry Huxley pada abad ke-19. Huxley
dikenal sebagai "Bulldog of Darwin," karena perannya yang aktif
mendukung teori evolusi Charles Darwin dan mempertahankan pandangan ilmiah
terhadap agama dan sains.
Paham agnostik muncul pada masa ketika ada
pertentangan antara ilmu pengetahuan dan agama, khususnya di Eropa. Pada masa
itu, pemikiran ilmiah mulai berkembang pesat, dan teori-teori ilmiah yang
bertentangan dengan ajaran agama, seperti teori evolusi, mulai menarik
perhatian banyak orang.
Huxley menciptakan istilah "agnosticism" pada
tahun 1869. Ia menggunakannya untuk menjelaskan pandangannya mengenai
pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti keberadaan Tuhan dan kehidupan setelah
mati, yang menurutnya tidak bisa dijawab dengan bukti-bukti rasional atau
ilmiah.
Dalam esainya yang berjudul "Agnosticism"
(1889), Huxley menjelaskan bahwa seorang agnostik adalah orang yang percaya
bahwa pengetahuan tentang hal-hal spiritual atau metafisik tidak bisa dicapai
melalui bukti empiris atau pembuktian rasional. Ia menyatakan bahwa manusia
memiliki keterbatasan intelektual dalam hal-hal seperti ini, dan karena itu,
kita harus menghindari klaim-klaim yang tidak dapat dibuktikan secara pasti.
Huxley menekankan bahwa agama, khususnya agama
Kristen, sering kali membuat klaim tentang hal-hal yang tidak bisa dibuktikan
secara ilmiah. Dia ingin menekankan bahwa posisi agnostik bukanlah bentuk
penolakan terhadap agama, melainkan pengakuan atas keterbatasan pengetahuan
manusia.
Konsep agnostisisme kemudian berkembang dan mempengaruhi
banyak filsuf dan ilmuwan lainnya. Meskipun paham ini lebih dikenal pada abad
ke-19, pandangan agnostik semakin populer di kalangan orang-orang yang skeptis
terhadap klaim-klaim metafisik dan religius tanpa bukti yang jelas.
Agnostisisme juga dapat dipandang sebagai reaksi
terhadap paham-paham yang terlalu dogmatis, baik dalam konteks agama maupun
dalam konteks ilmiah. Seringkali, para agnostik lebih memilih sikap terbuka dan
skeptis terhadap klaim yang tidak dapat dibuktikan.
Setelah Huxley, konsep agnostik semakin diterima dalam
dunia filsafat dan sains, dan sering kali dianggap sebagai sikap tengah antara
ateisme (penolakan terhadap Tuhan) dan teisme (kepercayaan terhadap Tuhan).
Banyak tokoh intelektual, baik dari kalangan ilmuwan maupun filsuf, mengadopsi
pandangan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan
manusia.
Secara keseluruhan, paham agnostik lahir sebagai
respons terhadap pertanyaan besar mengenai keberadaan Tuhan dan realitas
metafisik, dengan penekanan pada keterbatasan manusia dalam memperoleh
pengetahuan pasti tentang hal tersebut.
Apa kritik doktor Ahmad Sastra terhadap paham agnostic,
ChatGPT said : Dr. Ahmad Sastra, seorang cendekiawan dan intelektual Muslim,
memberikan kritik terhadap paham agnostik dari perspektif Islam. Sebagai
seorang pemikir yang memiliki latar belakang dalam studi Islam dan filsafat,
Dr. Ahmad Sastra melihat paham agnostik dalam konteks yang berbeda dari
pandangan Islam yang jelas dan tegas mengenai keberadaan Tuhan dan kehidupan
setelah mati.
Salah satu kritik utama Dr. Ahmad Sastra adalah bahwa
paham agnostik menekankan keterbatasan akal manusia dalam mengetahui realitas
metafisik, tetapi dalam Islam, akal manusia dipandang sebagai anugerah dari
Tuhan yang dapat digunakan untuk mencari kebenaran dan mengenal Tuhan. Akal
yang sehat dalam Islam seharusnya mampu menemukan bukti-bukti yang mendukung
eksistensi Tuhan melalui penciptaan alam semesta, keindahan, dan keteraturan
hukum alam yang ada.
Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hanya bergantung
pada akal tetapi juga pada wahyu (Al-Qur'an dan Hadis) untuk mengetahui hal-hal
yang tidak bisa dijangkau oleh akal semata. Dalam pandangan Islam, meskipun ada
keterbatasan pada akal manusia, iman dan wahyu memberikan jalan yang jelas menuju
pengetahuan yang lebih tinggi.
Agnostik, menurut Dr. Ahmad Sastra, cenderung
meragukan kebenaran agama karena menganggap bahwa hal-hal metafisik tidak bisa
diketahui dengan pasti. Dalam perspektif Islam, keimanan bukanlah sekadar
masalah pengetahuan rasional atau empiris. Keimanan kepada Tuhan dan ajaran
agama dalam Islam merupakan keyakinan yang datang dari hati dan dibimbing oleh
wahyu yang jelas.
Agnostik berfokus pada keraguan dan ketidakpastian, sementara
Islam justru menekankan keyakinan kepada Tuhan yang dapat dibuktikan melalui
pengalaman spiritual, ayat-ayat Al-Qur'an, dan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang
nyata di alam semesta. Dalam Islam, iman kepada Allah adalah dasar dari seluruh
ajaran hidup, yang tidak hanya mengandalkan bukti-bukti fisik atau rasional
semata.
Dr. Ahmad Sastra menganggap bahwa paham agnostik,
meskipun dapat dianggap sebagai posisi yang lebih moderat antara ateisme dan
teisme, tetap tidak memberikan jawaban yang memadai terhadap pertanyaan-pertanyaan
fundamental tentang eksistensi dan tujuan hidup. Agnostik, dalam pandangannya,
lebih banyak berfokus pada keraguan dan ketidakpastian, namun tidak memberikan solusi
jelas mengenai arah hidup dan tujuan akhir manusia.
Islam, di sisi lain, memberikan jawaban komprehensif
terhadap tujuan hidup manusia, yang tercermin dalam konsep ibadah dan
pengabdian kepada Tuhan. Ajaran Islam tentang akhlak, syariat, dan spiritualitas
memberikan manusia panduan yang jelas dalam mencari kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Dr. Ahmad Sastra menegaskan bahwa dalam Islam, keberadaan
Tuhan adalah sesuatu yang sudah jelas dan tidak perlu diragukan. Agnostik
mungkin menganggap bahwa Tuhan atau eksistensi Tuhan adalah hal yang tidak
dapat diketahui dengan pasti, namun Islam mengajarkan bahwa Tuhan itu ada dan
eksistensinya dapat dibuktikan melalui berbagai tanda-tanda alam dan pengalaman
spiritual. Dalam Al-Qur'an, banyak ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan
ciptaan Tuhan sebagai bukti adanya pencipta.
Contoh ayat yang relevan adalah dalam surah Al-Imran
(3:190-191) yang berbicara tentang keajaiban ciptaan Tuhan yang dapat mengarah
pada pengetahuan tentang Tuhan: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal."
Agnostik lebih banyak berfokus pada ketidakmampuan
manusia untuk mengetahui Tuhan dengan pasti, sementara Islam mengajarkan bahwa
meskipun pengetahuan manusia terbatas, Tuhan tidak dapat sepenuhnya dipahami
oleh akal manusia.
Keimanan dalam Islam mengajarkan bahwa keyakinan
terhadap Tuhan bukan semata-mata bergantung pada pengetahuan rasional, tetapi
juga pada pengalaman spiritual dan kepasrahan terhadap kehendak Tuhan. Dr.
Ahmad Sastra mungkin menilai bahwa agnostik terlalu mengedepankan rasionalisme
dan meremehkan dimensi spiritual yang ada dalam agama.
Kritik Dr. Ahmad Sastra terhadap paham agnostik dari
perspektif Islam berfokus pada dua hal utama: pertama, bahwa Islam menganggap
akal manusia sebagai sarana untuk menemukan Tuhan dan bukan alasan untuk
meragukan-Nya.
Kedua, bahwa Islam memberikan jawaban yang lebih pasti
dan komprehensif mengenai eksistensi Tuhan dan tujuan hidup manusia. Agnostik,
dalam pandangan ini, mungkin dianggap sebagai posisi yang tidak memberikan
solusi definitif terhadap pertanyaan-pertanyaan besar tentang kehidupan dan
Tuhan.
(Ahmad Sastra, Kota Hujan, 30 Ramadhan 1446 H – 30 Maret
2025 M : 20.08 WIB)