Oleh : Ahmad Sastra
Di panggung megah, bertopeng idealis,
Berhala baru hadir dengan kilau perisai,
Menggiring jiwa-jiwa dalam pusaran angin,
Menyulam janji dari lidah penuh belati.
Bersinar di altar kemakmuran palsu,
Dipuji dan disembah dalam nyanyian buta,
Sementara tangan-tangan tak terlihat,
Menarik tali di balik tirai dunia.
Katanya, suara rakyat adalah dewa,
Tapi hanya gema di ruang hampa,
Dimainkan bagai boneka tanpa jiwa,
Di bawah kaki mereka yang berkuasa.
Di jalanan, orang-orang berbicara lantang,
Namun suaranya teredam oleh tirani,
Berhala ini tersenyum dalam diam,
Menukar kebebasan dengan ilusi abadi.
Dan di ujung mimpi yang terjal,
Kita terbangun dalam kebingungan fana,
Melihat demokrasi yang dijanjikan,
Ternyata hanya fatamorgana di padang hampa.
Berhala modern itu bernama demokrasi
Menyerahkan hukum kepada manusia
Manusia culas tak punya jiwa
Sementara hukum Tuhan justru diabaikan
Di dunia di mana kata-kata jadi senjata,
Berhala ini memahat nasib kita,
Namun di balik topengnya yang sempurna,
Adakah keadilan yang benar-benar nyata?
Kota Bogor, 31/08/24 : 21.51 WIB
Assalamu'alaykum ustadz.
BalasHapusafwan sebelumnya saya ingin meminta izin untuk menjadikan tulisan antum sebagai konten dakwah.
untuk detailnya sudah saya kirim DM di IG antum. syukron